Menjaga Iman dan Takwa ditengah Zaman Serba Digital
Menjaga Iman dan Takwa ditengah Zaman Serba Digital adalah kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. pada Rabu, 24 Rabiul Awal 1448 H / 6 September 2026 M.
Kajian Tentang Menjaga Iman dan Takwa ditengah Zaman Serba Digital
Kebiasaan manusia yang jujur dapat berubah menjadi kebiasaan manusia yang berkhianat. Manusianya tetap sama, tetapi pada suatu zaman kejujuran dapat menyeluruh, sedangkan pada zaman lain kejujuran dapat menghilang.
Pada masa kejayaan Islam, hampir tidak ada orang yang berani mencurangi timbangan di pasar. Saat itu terdapat pengawas pasar dan mahkamah yang siap mengadili siapa pun yang mendzalimi konsumen. Umar radhiyallahu ‘anhu juga melarang pedagang berdagang di pasar Madinah sebelum memahami hukum perdagangan.
Pengawas melaporkan setiap gerak-gerik yang mencurigakan, terutama pendzaliman dan kecurangan. Karena itu, keadilan dan kejujuran menyeluruh. Bahkan, ketika seorang pedagang melihat tokonya laris sementara toko saudaranya belum laris, ia sengaja menutup tokonya agar toko saudaranya menjadi laris. Mereka mendahulukan orang lain.
Kebiasaan tersebut kemudian perlahan-lahan hilang di tengah masyarakat. Inilah yang dimaksud dengan perubahan kebiasaan dan adat, termasuk perubahan antara keadaan mayoritas dan minoritas.
Selain adat, alat yang digunakan manusia juga mengalami perubahan. Dalam urusan dunia, manusia tidak terikat pada satu bentuk tertentu. Ilmu dunia luas; manusia bebas berkarya, membuat, menciptakan, dan berimprovisasi dalam berbagai bentuk.
Kebebasan tersebut diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui lisan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau bersabda:
أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأُمُورِ دُنْيَاكُمْ
“Kamu lebih tahu tentang urusan dunia kamu.” (HR. Muslim)
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan ruang gerak yang luas dalam urusan dunia. Karena itu, ilmu dunia berkembang berlipat-lipat dibandingkan dengan ilmu dunia pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Umat terus memikirkan cara agar segala sesuatu menjadi lebih baik, cepat, mudah, dan praktis.
Alat-alat duniawi yang tidak ditemukan pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terus bermunculan. Alatnya berubah, tetapi kebutuhannya tetap sama.
Dahulu manusia berkomunikasi melalui tulisan yang dikirim dengan perantara orang lain atau burung. Sekarang manusia berkomunikasi dengan cara yang lebih mudah. Dahulu manusia berkendaraan menggunakan unta dan kuda. Di negeri kita, orang membajak sawah menggunakan sapi dan kerbau. Alatnya berganti, tetapi fungsinya tetap sama.
Hukum Asal Sarana Dunia dan Penggunaannya
Alat transportasi dan alat bajak tetap memiliki fungsi yang sama meskipun bentuk dan teknologinya berubah. Syariat Allah ‘Azza wa Jalla membebaskan manusia untuk mengembangkan sains dan teknologi dalam urusan dunia.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan urusan dunia murni dan tidak menyentuh agama, seperti membuat rumah, piring, pakaian, pesawat, pisau, jalan raya, serta menata permukiman, hukum asalnya adalah mubah. Tidak ada dosa dan pahala pada benda tersebut. Dosa dan pahala bergantung pada penggunaannya.
Gelas yang digunakan untuk minum minuman halal menjadi sarana kebaikan. Terlebih jika digunakan untuk memberikan minuman kepada orang yang kehausan dalam perjalanan, penggunaannya mendatangkan pahala. Sebaliknya, gelas yang digunakan untuk minum atau memberikan khamr menjadi sarana maksiat dan mendatangkan dosa. Dengan demikian, hukum asal sarana dunia adalah mubah, sedangkan pahala dan dosa bergantung pada penggunaannya.
Pesawat dan mobil juga hukum asalnya mubah. Keduanya merupakan hasil ilmu dunia yang Allah Subhanahu wa Ta’ala mudahkan bagi manusia untuk mempelajarinya dan mengembangkannya.
Mobil yang digunakan untuk pergi ke kantor, pasar, berolahraga, bertemu teman atau klien, serta bepergian untuk beristirahat dan mengunjungi tempat yang diinginkan, hukumnya mubah. Perjalanan keluarga juga mubah; tidak mendatangkan dosa maupun pahala, serta tidak termasuk perkara yang dipuji atau dicela syariat.
Mobil dan pesawat berubah menjadi sarana kebaikan apabila digunakan untuk pergi haji atau umrah. Haji termasuk salah satu syiar Islam yang terbesar, yakni tanda lahiriah agama Allah. Sebaliknya, apabila digunakan untuk kemaksiatan, keduanya menjadi sarana maksiat.
Karena itu, tidak benar menyebut pesawat sebagai bidah hasanah hanya karena dapat memberangkatkan jemaah haji lebih cepat daripada kapal laut. Pesawat tidak diciptakan secara khusus untuk memberangkatkan jemaah haji dan umrah. Pesawat juga dapat digunakan untuk kemaksiatan. Dengan demikian, penyebutan bidah hasanah tidak tepat untuk benda yang hukum asalnya mubah dan penggunaannya dapat diarahkan kepada kebaikan maupun kemaksiatan.
Mobil yang digunakan untuk pergi ke masjid, menghadiri pengajian, berbakti kepada orang tua, menolong saudara dalam kebaikan, menjenguk orang sakit, atau mengantarkan jenazah ke pemakaman telah digunakan untuk ketaatan. Penggunaannya mendatangkan pahala. Sebaliknya, mobil yang digunakan untuk maksiat menjadi sarana perbuatan dosa. Pada dasarnya, sarana dunia merupakan ilmu dunia yang hukum asalnya mubah.
Agama Mengatur Karakter Manusia, Bukan Alat
Karakter manusia tidak berubah. Manusia dengan karakter yang sama pada zaman Nabi Nuh ‘Alaihis Salam juga terdapat pada zaman Nabi Syuaib, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karakter manusia tetap sama hingga akhir zaman. Karena itu, agama mereka sama dan syariat mengatur karakter manusia yang sama.
Pada dasarnya, agama berlaku di setiap masa, bagi setiap bangsa, dan kapan saja karena yang diatur adalah manusia dengan karakternya. Agama tidak mengatur alat.
Alat merupakan urusan dunia dan sarana yang digunakan manusia untuk beraktivitas. Manusia memiliki karakter yang tidak berbeda, sedangkan alat dan kebiasaan mayoritas masyarakat dapat berubah sesuai zamannya.
Perubahan Kebiasaan dalam Memuliakan Ilmu
Pada zaman para sahabat, umat Islam gemar dan bersemangat mempelajari agama. Majelis taklim dipenuhi jemaah, para ulama dihormati, dan ahli ilmu dimuliakan bahkan melebihi raja.
Pernah seorang khalifah berada di tengah rakyatnya. Ketika seorang ulama datang, rakyat berpindah untuk mendatanginya sehingga hanya sedikit yang tersisa bersama khalifah.
Pada masa ilmu dimuliakan, khalifah itu berkata, “Itulah penguasa yang sesungguhnya. Orang-orang datang kepadanya dengan hati. Adapun kepada saya, mereka datang karena jabatan, bukan karena hati. Mereka datang kepada ulama dengan hati karena menginginkan ilmu.”
Bergesernya Penghormatan terhadap Ulama
Dahulu, orang-orang berbondong-bondong mendatangi ulama untuk mempelajari agama Allah dan mendapatkan nasihat. Kebiasaan itu telah berubah. Ketika yang datang adalah ulama, manusia tidak lagi berbondong-bondong. Namun, ketika yang datang penyanyi atau pelawak, mereka berbondong-bondong hadir.
Akibatnya, sebagian penceramah berubah menjadi pelawak agar menarik banyak orang. Sebagian pelawak pun berubah menjadi ustadz. Keadaan ini menambah keprihatinan: penceramah melawak dan pelawak menjadi ustadz.
Zaman tidak lagi seperti dahulu, ketika orang memuliakan ulama. Jika seorang penuntut ilmu terlihat tidak fokus mengikuti pelajaran, ia dikeluarkan dari majelis. Tidak ada seorang pun yang memprotes atau mengatakan bahwa ustadz tersebut berakhlak buruk. Adapun sekarang, ketika ustadz melarang jemaahnya memotret, ia justru dikritik di media sosial.
Agama Tetap, Syariat Sesuai Zaman
Agama tidak perlu berubah karena agama mengatur manusia. Agama Allah sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah satu agama. Adapun aturan syariat memiliki sedikit perbedaan sesuai dengan kondisi pada setiap zaman. Allah memberikan syariat sesuai keadaan umat pada zamannya, dan syariat yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan syariat yang paling sempurna.
Masa terbaik dalam urusan agama adalah masa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hidup bersama kaum muslimin, yakni para sahabat. Itulah zaman keemasan Islam: masa ketika Islam paling kuat, paling sempurna, dan paling agung dalam kehidupan manusia. Islam dipelajari, diamalkan, dimuliakan, dan dipraktikkan secara paling sempurna pada masa tersebut. Setelah itu, kesempurnaan tersebut perlahan-lahan menurun. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
لَا يَأْتِيْ زَمَانٌ إِلَّا وَالَّذِيْ بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ
“Tidak datang suatu zaman kecuali zaman setelahnya lebih buruk daripada zaman sebelumnya.” (HR. Bukhari)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa masa keemasan Islam adalah masa turunnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu masa ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hidup bersama para sahabat. Itulah masa Islam yang paling sempurna, paling agung, dan paling tinggi, sekaligus masa dengan karakter dan pengamalan Islam yang paling sempurna. Setelah itu, keadaan tersebut perlahan-lahan menurun.
Lebih dari 1.400 tahun telah berlalu sejak Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggalkan umatnya. Kemunduran agama terus berlangsung. Hal ini berbeda dengan dunia. Dari zaman Rasulullah hingga zaman sekarang, dunia dan teknologi terus mengalami kemajuan.
Mengembalikan Agama kepada Pemahaman Generasi Awal
Agar agama kembali sempurna, pemahamannya harus dikembalikan kepada zaman awal. Imam Malik berkata bahwa umat ini tidak akan menjadi baik dan benar kecuali dengan sesuatu yang menjadikan generasi pertama mereka baik dan benar. Apa yang pada masa generasi pertama tidak dianggap sebagai agama, tidak boleh dianggap sebagai agama pada masa setelahnya.
Nasihat Imam Malik berlaku bagi umat Islam hingga akhir zaman. Agama dan syariat tidak berubah. Apa yang pada masa awal tidak dianggap sebagai agama, tidak boleh pula dianggap sebagai agama pada zaman sekarang. Hal itu karena masa keemasan merupakan masa kesempurnaan Islam.
Rintangan Keimanan dan Perubahan Alat
Rintangan keimanan telah ada pada zaman para sahabat dan tetap ada pada zaman sekarang. Bentuk rintangannya pun memiliki kesamaan. Perbedaannya terletak pada alat yang digunakan.
Dahulu, orang-orang berkumpul untuk bercerita, tertawa terbahak-bahak, menggunjing, mencaci, memaki orang yang tidak hadir, dan meminum khamr. Hal-hal tersebut juga terjadi pada zaman sekarang, tetapi tempat dan medianya berbeda. Dahulu, orang berkumpul di suatu tempat. Sekarang, mereka dapat berkumpul melalui aplikasi.
Dalam obrolan melalui aplikasi, orang-orang tetap berkumpul, berdiskusi, dan berbicara pada waktu yang sama meskipun berada di tempat yang berbeda. Mereka dapat melakukan maksiat, menggunjing, serta mencaci dan memaki orang lain melalui media yang menghubungkan satu sama lain.
Pada zaman sekarang, seseorang dapat bertemu dan berbincang meskipun berada di tempat yang berbeda. Namun, maksiat yang dilakukan tetap sama: ingin bertemu, mengobrol, bercerita, dan tertawa bersama dalam kemaksiatan.
Godaan untuk berbuat maksiat yang ada pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat juga ada pada zaman kita, meskipun alat yang digunakan berbeda.
Untuk mempertahankan keimanan pada zaman ini, umat Islam harus kembali kepada cara para sahabat mempertahankan iman pada zaman mereka. Pada hakikatnya, tidak ada perbedaan dalam menghadapi godaan tersebut.
Maksiat pada zaman sekarang sering dianggap lebih banyak karena ada di mana-mana, merajalela, menyelimuti kehidupan, dan menggerogoti iman kaum muslimin. Namun, bentuk maksiat pada masa kini tidak berbeda secara mendasar dari maksiat pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Maksiat bukanlah alat yang digunakan untuk melakukannya. Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, musik, tarian, tempat minum khamr, kesyirikan, pertumpahan darah, caci maki, ghibah, dan namimah sudah ada. Karena itu, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbicara kepada manusia pada zamannya, pembicaraan tersebut juga berlaku bagi manusia pada zaman kita.
Manusia hidup dengan karakter yang sama. Mereka melakukan kesalahan dan terjerumus ke dalam sifat yang sama, meskipun alat yang digunakan serta kebiasaan masyarakatnya berbeda.
Syariat Tetap Relevan dalam Menghadapi Fitnah
Mengembalikan agama kepada ajaran, perintah, dan praktik Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama para sahabat merupakan satu-satunya jalan untuk bertahan menghadapi fitnah pada zaman dahulu maupun zaman sekarang. Perbedaan alat dan teknologi tidak menyebabkan perbedaan dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan bahwa apabila pandangan seseorang tertuju secara tidak sengaja kepada aurat orang lain, pandangan pertama itu dimaafkan. Pandangan tersebut tidak boleh diikuti dengan pandangan kedua.
يَا عَلِيُّ لَا تُتْبِعِ النَّظْرَةَ النَّظْرَةَ فَإِنَّمَا لَكَ الْأُولَى وَلَيْسَتْ لَكَ الثانيةُ
“Wahai Ali, janganlah engkau mengikuti pandangan (pertama) dengan pandangan (berikutnya). Karena sungguh, pandangan yang pertama itu menjadi hakmu (ditoleransi/tidak berdosa), tetapi pandangan yang kedua bukan milikmu (dihutang dosa/berdosa).”
Ajaran ini tetap berlaku sampai kapan pun. Pada masa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terdapat orang-orang yang membuka aurat di tengah kaum muslimin. Kaum muslimin dilarang melihat aurat tersebut. Jika aurat terlihat, pandangan harus dialihkan dan tidak boleh sengaja diarahkan kembali. Pandangan pertama tidak berdosa karena terjadi tanpa sengaja, sedangkan pandangan kedua menjadi dosa karena dilakukan dengan sengaja.
Hadits shahih riwayat Imam Muslim juga menjelaskan godaan setan ketika seorang laki-laki melihat perempuan yang datang menghampiri lalu pergi meninggalkannya. Setan dapat memberikan gambaran-gambaran buruk kepada pikiran laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa syariat tetap dapat diamalkan pada zaman sekarang.
إِنَّ الْمَرْأَةَ تُقْبِلُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ وَتُدْبِرُ فِي صُورَةِ شَيْطَانٍ
“Apabila seorang perempuan datang menghadap dengan penampilan tertentu, lalu berpaling dan pergi dengan penampilan yang lain, hal itu menjadi godaan bagi laki-laki.” (HR. Muslim)
Pertukaran alat dan teknologi tidak membuat agama Allah Subhanahu wa Ta’ala serta syariat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kehilangan ketahanannya. Syariat akan bertahan selama-lamanya. Karena itu, ketika para ulama menjelaskan cara menjaga iman pada zaman fitnah, mereka selalu mengembalikannya kepada ayat-ayat Allah dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kesabaran dalam Mempertahankan Agama
Beragama membutuhkan kesabaran dalam menghadapi orang-orang yang tidak sesuai dengan agama. Nabi dan para sahabat bersabar menghadapi orang-orang yang tidak menyukai agama mereka pada zaman itu. Umat Islam pada zaman sekarang juga harus beragama dengan sabar.
والصَّبْرُ ضِياءٌ
“Kesabaran adalah cahaya.” (HR. Muslim)
Kesabaran memberikan kepedihan. Sabar adalah cahaya yang menerangi, tetapi juga memberikan rasa panas. Mempertahankan agama pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, khususnya di Makkah, bahkan lebih sulit daripada mempertahankan agama pada zaman kita. Tantangannya adalah antara dibunuh atau diadzab.
Di negeri dan tengah masyarakat kita sekarang, orang yang ingin mengamalkan agama tidak menghadapi tantangan seperti yang dihadapi kaum muslimin pada masa awal Islam.
Pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, keadaannya tidak demikian. Seseorang dapat dilemparkan dan dicampakkan oleh keluarganya, dicaci maki serta dihina oleh masyarakatnya, bahkan dihadapkan pada tantangan berupa adzab atau pembunuhan. Zaman kita tidak seperti itu.
Banyak orang berkata bahwa alangkah indahnya hidup pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan bersama beliau, sedangkan sekarang hidup jauh dari beliau. Hudzaifah bin Yaman, seorang sahabat Nabi, sering marah mendengar ucapan semacam itu.
Hudzaifah bin Yaman adalah sahabat yang dipercaya menyimpan nama-nama orang munafik. Allah mewahyukan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam siapa saja orang munafik di antara kaum muslimin. Rasulullah mengetahui nama-nama mereka, kemudian memberitahukannya kepada Hudzaifah bin Yaman dan mengambil janji darinya agar tidak menyampaikan nama-nama tersebut kepada siapa pun.
Karena itu, Hudzaifah bin Yaman disebut shahibu sirri Rasulillah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, pemilik rahasia Rasulullah. Rahasia yang dimaksud ialah nama-nama orang munafik.
Umar bin Khattab mendatangi Hudzaifah bin Yaman dan bertanya apakah namanya termasuk salah satu nama yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hudzaifah menjawab, “Tidak.” Dengan jawaban itu, Umar yakin bahwa dirinya bukan orang munafik, sedangkan Hudzaifah tidak melanggar janji. Ia tidak menyebutkan nama siapa pun. Inilah kecerdasan dalam memperoleh informasi tanpa melanggar janji.
Peristiwa itu menunjukkan ketakutan Umar bin Khattab, seorang khalifah yang mendapat persaksian masuk surga, terhadap kemungkinan menjadi orang munafik. Padahal, ia telah memperoleh berbagai keutamaan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan persaksian orang-orang beriman di tengah mereka.
Itulah generasi terbaik umat Islam, bahkan yang terbaik di antara generasi terbaik. Ketika ada orang berkata kepada Hudzaifah bin Yaman, “Enak, ya, kalian hidup bersama Rasulullah,” ia marah dan menjelaskan bahwa orang-orang tersebut tidak mengetahui pedihnya kehidupan bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Para sahabat mengalami sakit dan penderitaan ketika berjuang menegakkan agama Allah bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Orang-orang hanya melihat sisi kehidupan mereka yang bersama Rasulullah. Jika merasakan pedihnya kehidupan tersebut, mereka tidak akan mengucapkan perkataan demikian.
Kehidupan bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam penuh rintangan, penderitaan, peperangan, dan musuh yang selalu mengintai, terutama di Makkah ketika kaum muslimin masih lemah, sedangkan kaum Quraisy sangat kuat mempertahankan agama nenek moyang mereka. Tidak semua orang mengetahui penderitaan para sahabat bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Kita tidak mengetahui seluruh penderitaan yang dialami para sahabat dalam mempertahankan agama. Karena itu, kesabaran tetap dibutuhkan, baik pada zaman tersebut maupun zaman sekarang: sabar berpegang teguh pada agama dan mengatakan tidak kepada ajakan yang tidak sesuai dengan syariat.
Para sahabat mempertahankan agama meskipun terusir dari keluarga, ayah dan ibu, sahabat, keluarga besar, atau kabilah. Orang yang ingin teguh beragama pada zaman sekarang harus melakukan hal yang sama. Ia harus berpegang teguh pada agamanya, apa pun yang terjadi. Jika harus ditolak kawan, ia menghadapinya. Jika harus diusir ayah dan ibu, ia menghadapinya. Jika harus dimarahi oleh instansi tempat bekerja, itu merupakan konsekuensi beragama.
Banyak orang ingin beragama, tetapi tidak kuat menghadapi cobaan. Mereka mencari-cari agama yang mendekati keinginan komunitasnya agar tidak terusir dari lingkungan pergaulan. Cara demikian bukanlah beragama dengan benar.
Agama membedakan antara hak dan batil secara tegas. Kebenaran dan kebatilan tidak memiliki wilayah abu-abu. Keduanya terpisah dan tidak dapat disatukan. Jika kebenaran dan kebatilan diletakkan dalam satu tempat lalu dicampur, hasilnya adalah kebatilan, bukan kebenaran. Kebenaran ibarat putih, sedangkan kebatilan ibarat hitam. Campuran keduanya menjadi abu-abu, yang tetap keluar dari sifat hak.
Contohnya, seseorang ingin menjalankan syariat Allah, tetapi tetap duduk di majelis ghibah karena takut kehilangan kawan. Sikap seperti itu merupakan wilayah abu-abu yang tidak menunjukkan keteguhan beragama dan kesabaran dalam menjalankan agama.
Orang yang berpegang teguh pada agama dan bersabar dalam menjalankannya, walaupun diusir orang lain, mendapatkan kabar gembira dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
بَدَأَ الإِسْلاَمُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing. Maka, berbahagialah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Islam pada awal kemunculannya dianggap asing oleh masyarakat dan orang-orang yang mendengarnya. Mereka bertanya-tanya tentang agama yang berbeda dari agama mereka.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan bahwa agama ini pada awalnya dianggap asing dan kelak akan kembali dianggap asing sebagaimana pertama kali. Orang yang berpegang teguh pada agama juga akan dianggap asing oleh masyarakatnya.
Mereka akan dianggap aneh karena berbeda dari kebiasaan masyarakat: ketika orang lain melakukan sesuatu, mereka tidak melakukannya; ketika orang lain tidak melakukannya, mereka justru melakukannya.
Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Dengarkan dan Download Kajian Menjaga Keteguhan Iman dan Takwa ditengah Zaman Serba Digital
Podcast: Play in new window | Download
Jangan lupa untuk turut menyebarkan kebaikan dengan membagikan link kajian “Menjaga Iman dan Takwa ditengah Zaman Serba Digital” ini ke media sosial Antum. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Antum semua.
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56524-menjaga-iman-dan-takwa-ditengah-zaman-serba-digital/